On March 12, 2026, while attending the ASEAN-Korea Influencers Night, I recalled a memorable question posed when we have a casual networking session at that time. The question is about why Indonesian cinemas seem to be filled with horror films.
Tampilkan postingan dengan label Movie Reviews. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Movie Reviews. Tampilkan semua postingan
![]() |
| Onward (2020) |
Judul: Onward (2020)
Sutradara: Dan Scanlon
Produser: Kori Rae
Pemeran Suara: Tom Holland, Chris Pratt, etc
Film ini menceritakan tentang Ian Lightfoot (Tom Holland) dan Barley Lightfoot (Chris Pratt), dua peri kakak beradik, yang hidup di dunia penuh makhluk-makhluk mitos, seperti peri, centaurus (makhluk setengah kuda), trolls, dan lainnya,
Ian si adik adalah peri yang sangat tidak percaya diri, sedangkan Barley si kakak, memiliki entusiasme yang tinggi dan senang memainkan permainan kartu karakter. Keduanya hidup bersama ibunya setelah ayahnya meninggal karena sakit, tak lama setelah Ian lahir.
Di hari ulang tahun Ian yang ke-16, ibunya memberinya hadiah yang disimpan oleh ayahnya sebelum meninggal, yaitu sebuah tongkat sihir, Permata Phoenix yang langka, dan sebuah mantra yang bisa memanggil ayahnya selama satu hari. Ian kemudian menggunakan mantra tersebut, tetapi karena sebuah kesalahan, Ian hanya mampu memanggil setengah tubuh ayahnya. Untuk memanggilnya secara utuh, mereka membutuhkan permata lagi, lalu dimulai lah perjalanan mereka mencari permata.
Dunia yang seharusnya dipenuhi dengan fantasi dan juga magic kini hidup dalam kendali teknologi dan sistem yang sudah diatur, mampu kah Ian dan Barley mengembalikan ciri dunianya?
Review
Onward dan Teknologi
Film ini menampakkan pengaruh dan dampak dari kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi sangat membantu memudahkan pekerjaan-pekerjaan berat. Seseorang yang tadinya tidak bisa melakukan suatu hal berat, kini dengan mudah ia bisa melakukannya.
Tetapi, fungsi yang awalnya hanya memudahkan, kian lama menimbulkan pola hidup yang malas, sehingga seseorang atau sesuatu bisa kehilangan cirinya. Contoh dalam film ini, ada seorang Centaurus yang bekerja sebagai polisi. Penemuan mobil membuat pekerjaan si Centaurus yang harus berpatroli jadi terkesan mudah dan tanpa perlu tenaga besar. Tetapi, ciri Centaurus yang bebas dan berlari dengan kaki kudanya menghilang.
Character Development (+ sedikit spoiler)
Aku suka sekali film ini karena konsep petualangannya juga menekankan pada perkembangan karakter dalam film, khususnya Ian Lightfoot.
Ian awalnya tuh sangat tidak percaya diri. Selalu menganggap dirinya payah. Dan mungkin ia juga merasa malu dengan Kakaknya yang terlalu ramai.
Karena tidak pernah benar-benar bertemu dengan ayahnya, ia hanya mendengar cerita dari orang sekitarnya. Dan hal itu membuat Ian sangat ingin bertemu dengan ayahnya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama ayahnya, melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah ditulisnya dalam catatan, dan lain sebagainya. Tapi, seiring berjalannya waktu, petualangan Ian dan Barley menyadarkan Ian bahwa Barley selalu ada disamping Ian, bahkan Ian tidak harus merasa sedih karena tidak bertemu dengan ayahnya, karena Barley lah yang benar-benar kehilangan ayahnya.
Intinya, dari karakter Ian dan Barley, aku bisa melihat adanya nilai ikhlas dan bersyukur yang bisa diambil dari film ini.
Overall Review
☆☆☆☆☆
5 bintang untuk film ini.
Karena film ini sangat berkesan dan menunjukkan banyak nilai berharga.
Walaupun film animasi, film ini cocok untuk ditonton oleh semua kalangan usia.
Oh, dan kalian yang ingin menontonnya bisa menonton di Disney+ Hotstar ya~
Judul: Space Sweepers / 승리호
Sutradara: Jo Sung-Hee.
Produser: Jason Yu, Kim Su-Jin, Yun In-Beom.
Pemeran: Song Joong-Ki, Kim Tae-Ri, Jin Sun-Kyu, Yu Hae-Jin, etc.
Rilis: 5 Februari 2021, Netflix
Sinopsis
Film ini berkisah tentang Tae-Ho (Song Joong-Ki), seorang pilot kapal luar angkasa yang dinamai Victory. Kapal tersebut dipimpin oleh Kapten Jang (Kim Tae-Ri), dan dengan dua anggota kapal lainnya, Tiger Park (Jin Sun-Kyu) dan Robot Bubs (Yu Hae-Jin).
Review
Pertama-tama, film ini rekomendasi banget, guys! Harus nonton banget pokoknya!
- Konsep dan Plot
Apakah kalian bisa membayangkan bagaimana keadaan Bumi 50 tahun ke depan?
Film ini menggambarkan kondisi terburuk Bumi di tahun 2092, dimana pada tahun tersebut Bumi dianggap sebagai planet yang hampir tak layak huni. Mengetahui masalah tersebut, dibandingkan dengan menata ulang Bumi agar bisa lebih layak dihuni, UTS Corporation mengabaikan Bumi yang sedang sakit dengan membangun orbit baru sebagai tempat tinggal Bumi. Tetapi hanya orang-orang terpilih saja yang bisa tinggal di orbit tersebut.
Konsep luar angkasa untuk perfilman Korea Selatan tuh masih sangat baru, jadi sebelum nonton film ini, aku agak mixed gitu ekspektasinya. Genre space-adventurenya baru banget soalnya, takutnya aneh, tapi penasaran juga, akhirnya nonton.
Isu tentang lingkungan disini oke banget. Dan tipikal problemnya disebabkan oleh keserakahan dan kesombongan manusia bahwa mereka bisa menciptakan dunia yang lebih baik dari dunia yang sekarang. Tapi toh walaupun sudah hidup di luar angkasa, manusia tetap saja menciptakan sampah yang mengotori angkasa. Karena itu lah, ada Space Sweepers alias Tukang Sapu Luar Angkasa, wkwk. Keren idenya yang ini.
Overall juga film ini sangat menghibur. Konfliknya standar dan nggak begitu berat, walau punya aftereffect yang membuat kita bisa merefleksikan diri.
- Actors
Ini film comeback Song Joong-Ki yang sangat menjanjikan, sih. Acting Song Joong-Ki tidak perlu diragukan lagi, lalu chemistrynya dengan Kim Tae-Ri, Jin Sun-Kyu dan Bubs si robot yang suaranya diisi oleh Yu Hae-Jin tuh bagus banget.
Aku paling suka karakter Bubs si robot, wkwk. Dia bercita-cita ingin melakukan transplantasi kulit, wkwk. Ya pokoknya si robot itu pengen beli semacam baju, biar dia punya penampilan cakep gitu. Dan endingnya sangat menghibur dan mengejutkan, haha.
- Ending
Nggak. Aku nggak akan spoiler. Untuk bagian ending ini, aku hanya ingin bilang bahwa endingnya memuaskan. Bukan ending yang gantung, receh, aneh, atau meninggalkan kesan-kesan tak puas di hati.
Pokoknya film ini rekomen sekali.
Overall Review
☆☆☆☆☆
5 bintang untuk film yang berhasil menorehkan prestasi
dengan pencapaiannya sebagai tops global Netflix rankings.
Oh gosh! This is amazing!
Please make a way to a newly born hero, Gundala!
![]() |
Judul: Gundala (2019)
Sutradara: Joko Anwar
Produser: Sukhdev Singh, Wicky V. Olindo, Bismarka Kurniawan
Pemeran: Abimana Aryasatya, Tara Basro, Bront Palarae, Ario Bayu, Rio Dewanto, etc.
Rilis: 29 Agustus 2019
Menceritakan tentang Sancaka, anak laki-laki yang takut dengan hujan petir, lantaran petir-petir tersebut seolah terus mengincarnya. Suatu hari, ia harus hidup di tengah kerasnya kehidupan kota sendirian sejak ditinggal oleh kedua orang tuanya. Kehidupan yang keras memaksanya untuk bertahan hidup dengan tidak peduli dengan orang lain dan hanya mempedulikan dirinya sendiri saja. Tetapi ketika situasi kota semakin kacau, Sancaka harus membuat keputusan, tetap hidup di zona amannya, atau keluar sebagai Gundala untuk membela masyarakat yang tertindas.
Review
Well personally, aku sangat excited ketika Joko Anwar, yang sebelumnya aku kenal melalui karyanya film Pengabdi Setan, berencana untuk membuat film mengenai pahlawan super yang berasal dari komik Indonesia. Karakter-karakter yang sudah terungkap beserta yang memerankannya, membuatku lebih antusias menanti film-film Jagat Sinema BumiLangit ini.
Awalnya, aku sedikit underestimate mengenai konsep dan penyisipan efek CGI untuk film Gundala ini. Takutnya terlalu mengawang, dan efeknya tidak begitu memuaskan. Tetapi setelah menonton film Gundala, aku bersyukur film ini tidak/ mungkin belum begitu bergantung dengan pengaturan efek CGI. Aku menyukai hasil kinerja Joko Anwar beserta timnya yang sangat hebat dalam penetuan lokasi, tone warna dalam film, dan lain sebagainya. Mereka tidak berlebihan dalam hal efek CGI, tetapi lebih menitikberatkan pada action dan keahlian bertarung yang memang sudah membawa nama baik perfilman Indonesia sejak film The Raid tayang.
Konflik yang menjadi pokok permasalahan di film Gundala ini pun sangat relatable dengan kehidupan masyarakat khususnya Indonesia saat ini. Terlalu banyak poin mengenai konfliknya, seperti gambaran anggota dewannya, lalu masyarakatnya yang rentan akan hoax. Aku menyarankan kalian untuk menonton film ini, karena film ini bagus.
Sebelum menonton, aku juga sempat melihat review yang dibuat oleh beberapa temanku di instagram. Ada yang mengatakan bahwa pembawaan suasana di film ini seperti film-film DC, yang dark gimana gitu. Tetapi setelah aku menonton sendiri, rasanya BumiLangit Cinematic Universe ini cenderung brown alias cokelat, dibandingkan dark atau gelap atau hitam.
Alur cerita juga tidak terkesan berat. Unsur-unsur komedi masih disisipkan di dalam film. Dan aku sangat suka, karena porsinya tuh pas dan tidak berlebihan.
OH! Dan ada beberapa adegan yang membuatku sangat terkesan. Salah satunya adalah kehadiran pahlawan perempuan, Sri Asih, yang diperankan oleh Pevita tuh keren banget. Pevita-nya cantik banget, dan momen kehadirannya di film tuh keren juga.
Untuk film pembuka seri pahlawan super Indonesia ini, menurutku film ini sangat rekomen. Pasalnya, selain menyuguhkan aktor, konflik, sinematografi, action, musik, dan semangat berkarya yang baru, film ini juga mampu membuatku penasaran dengan film kedua seri ini, yakni Sri Asih.
Apakah aku bangga? Tentu aku sangat bangga dengan hasil karya Indonesian yang memiliki kualitas dan nilai baik di mata nasional maupun internasional. Membuatku jadi termotivasi untuk berkarya. Terlebih aku dan saudara laki-lakiku sering mengobrol mengenai film, dan adikku mengatakan bahwa di Asia Tenggara, yang punya komik pahlawan super hanya kita, Indonesia. Correct me if i'm wrong, ya. Aku sangat senang bahwa Indonesia mampu membuat Cinematic Universe sendiri di kancah Asia.
Sejujurnya, aku nggak pernah mengikuti komik pahlawan super, bahkan Marvel dan DC pun tidak. Jadi pengetahuanku mengenai pahlawan super hanya terbatas pada apa yang sudah digambarkan melalui film layar lebar tersebut. Selain itu, aku juga belum mampu mereview sesuatu dengan sungguh tersusun rapih dan detail, sehingga kalimatnya cenderung singkat dibandingkan review dari blogger atau sumber lain.
OVERALL REVIEW
✩✩✩✩✩
5 bintang.
Apakah menurut kalian, aku terlalu mudah dalam memberikan bintang?
Pasalnya film ini adalah film pembuka yang sangat bagus, meningkatkan ekspektasi penonton terhadap film-film selanjutnya yang diharapkan lebih baik dari film pertama.
Jadi, aku sangat merekomendasikan film ini untuk kalian para moviegoers.
Tidaaaaaak! Aku tidak bisa menahan beban ini sendirian. Aku harus mengutarakan perasaan ini. Perasaan ketika menonton film ter-epic sepanjang tahun 2019, terhitung sampai bulan April. This can't be real!
Oke guys. Hai, welcome back to Greenshe Reviews! Bersama aku yang tengah dirundung kegilaan mengenai betapa epic-nya film penutup seri Avengers ini. Like....... seriously. Aku nggak bisa mendiami laptop-ku di saat-saat seperti ini. Saat perasaanku seolah ditendang ke sana ke mari, sampai rasanya tuh kebas, dan hampa.
Yak, langsung saja.
Judul : Avengers: Endgame
Sutradara : Anthony Russo, Joe Russo
Produser : Kevin Feige
Pemeran : Robert Downey Jr, Chris Evans, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Scarlett Johansson, dan banyak guys, klik disini.
Rilis : 24 April 2019 ( Indonesia )
Haaaa .... Huuuu .... Aku harus tarik nafas sejenak sebelum bercerita.
So, aku menonton film ini tiga hari setelah premier-nya di Indonesia, yaitu tanggal 27 April 2019.
Untuk menonton pun aku dan teman-temanku mengalami sedikit drama, seperti salah beli tiket malah di tanggal 24 April yang notabene aku dan teman-temanku tidak bisa, haha. Tapi akhirnya semua beres. Kami membeli tiket lagi untuk 4 bangku, dan kedapatan di barisan L, yakni baris kedua di depan layar.
Awalnya aku sedikit pesimis bahwa pengalaman nonton di barisan dekat layar akan terasa tidak menyenangkan, karena sebelumnya, aku pernah menonton sebuah film di suatu bioskop, kebetulan kedapatan di barisan dekat layar, dan leherku sedikit nyeri setelahnya, karena kursinya yang begitu tegak, haha. Tetapi, barisan depan layar yang ada di CGV better kok, karena bangkunya tidak begitu tegak, jadi kita masih bisa santai menonton film tanpa perlu menempel koyo sepulang nonton.
Ada beberapa spoiler yang muncul di feed instagramku, salah satunya...
Yeah. I mean i knew kalau perang tuh pasti membutuhkan pengorbanan, dan tentunya tak luput dari kematian. Jadi sebelum menonton, aku sudah menguatkan hati bahwa akan ada karakter yang mati. Sehingga aku lebih memfokusnya mengenai seberapa besar kematian karakter di film ini mempengaruhi perasaanku, berhubung karakter favoritku itu Doctor Strange dan T'Challa udah menjadi abu.
LALU OH MY GOD NO! Story line nya sangat menyentuh. Tidak. Bukan tentang siapa yang mati. Tetapi bagaimana kematian itu terjadi. Yang membuatku menangisi kepergian karakter-karakter yang mati adalah pengorbanannya.
Sekarang....
SPOILER AHEAD
Film di buka dengan Tony Stark yang masih terjebak di luar angkasa bersama Nebula dan kadar oksigen yang semakin menipis. Ia berpikir ia akan mati, namun Carol menemukannya dan membawanya kembali ke bumi dengan selamat.
Kemudian ada Clint Barton yang tengah piknik bersama keluarganya, namun keluarganya tiba-tiba menghilang jadi debu. Yak, bagian ini menjelaskan kemana Clint Barton ketika Thanos menyerang saat Infinity War.
Tak lama setelahnya, anggota Avengers yang tersisa, selain Iron Man karena doi masih masa pemulihan dari luar angkasa gitu, mencari kembali Thanos yang sedang bercocok tanam(?). Setelah menemukan Thanos, para Avengers sempat berbincang panas sebentar dengan Thanos, lalu Thor yang sudah emosi akhirnya gone for the head yang ..... seharusnya dia lakukan di Infinity War. Damn. But it's ok. Ini baru sekitar 15 menit pertama, kok.
Pemecahan masalah untuk membereskan masalah yang dibuat oleh Thanos adalah kuantum realm yang sering diperbincangkan oleh dan di film Ant-Man, yang memungkinkan mereka untuk kembali ke masa lalu dan mengumpulkan seluruh batu dari setiap masa, untuk mengembalikan orang-orang yang menghilang karena petikan jari Thanos di Infinity War.
Setelah Hulk berhasil menggunakan kekuatan batu-batu itu untuk mengembalikan yang jadi abu, terjadi penyerangan lagi ke markas Avengers, dan menciptakan pertarungan besar antara Avengers dan Thanos (Kok Thanos ada lagi? Bukannya mati? Yah, tonton sendiri aja biar ngerti, pokoknya gitu, wkwk).
All the fights scenes, perangnya tuh membuatku benar-benar merinding, terlebih ketika teman-teman yang menjadi abu itu kembali dan membantu dalam perang, OH MY GOD PENYIHIR KESAYANGAN AKU DOCTOR STRANGE!
Oh dan tadi kukatakan ada yang mati. Iron Man dan Natasha Romanov sudah tiada. Sejujurnya, aku bukan penggemar berat keduanya. Tetapi melihat pengorbanan SUPER BESAR yang mereka lakukan di film ini benar-benar mengoyak hatiku. Pertarungan singkat antara Clint dan Natasha ketika ingin memperoleh Soul Stone benar-benar asdfghjkl, mereka bertarung dengan pikiran "aku yang harus mengorbankan diri". Ah........
Lalu, kematian Iron Man yang mengorbankan dirinya untuk menggunakan gauntlet Thanos untuk memetik jarinya dan menggunakan kekuatan batu-batu tersebut untuk mengembalikan yang telah menjadi abu dan menjadikan Thanos abu tuh benar-benar mengiris hati. Sudah di koyak, lalu di iris pula. Tubuhnya yang tidak kuat menerima kekuatan batu-batu pelangi itu, membuatnya mati. Like.... Parker dan Potts yang nangis saat kematiannya pun membuat perasaanku semakin berkecamuk.
Aku benar-benar minim kata-kata untuk menggambarkan betapa keren, epic, dahsyat, dan mengagumkannya film ini. All the dramas, all the tears, the humors, the conflicts, climax, anti-climax, and the ending. GREATEST SHOW EVER.
Oh hei, Captain Marvel has a new haircut! Sebenarnya aku lebih pro dengan wanita yang berambut panjang, tetapi harus ku akui kalau potongan bondol si Carol Danvers ini membuatnya keren. Tak buruk lah.
Oh! Ada satu adegan yang menarik perhatianku, yakni ketika para pahlawan perempuan kita bersatu menyerbu Thanos dan pasukannya. Benar-benar Girls on Top!
Ending untuk para karakter-karakter kita yang sudah habis kontrak juga berakhir dengan kebanggaan. Mereka benar-benar superhero favorite! Tapi aku sedikit kurang suka dengan penampilan akhir Thor di Endgame, wkwk. Tonton sendiri deh! Pokoknya worth it! Tiga jam mengakhiri runtutan film dari tahun 2008 dengan sangat indah dan mengagumkan. GOKIL!
Overall Review
☆☆☆☆☆
5 stars for the EPIC BATTLE and THE EPIC ENDING
This is so satisfying yet i feel kinda empty now. Bye Tony. Bye Steve. Bye Clint. Bye Nat. Bye... Thor(?). I think we could see Thor on the next phase tho, like in Guardian of The Galaxy 3. No. Marvel should definitely bring back Thor's six pack, hahaha.
Aduh, sebenarnya aku masih ngerasa post ini kurang, karena masih banyak unek-unek yang sulit untuk di deskripsikan melalui kata-kata, jadi mungkin segini sudah cukup. Atau jika ada yang ingin curhat tentang pengalaman menonton Avengers: End Game, silahkan komen atau email juga boleh.
So.... See ya!
Kalau sebelumnya pada tahun 2002 Indonesia di gemparkan dengan pasangan Cinta & Rangga dari seri Ada Apa Dengan Cinta yang menceritakan tentang kisah cinta anak SMA dan kisah sebuah penantian. Saat ini, Indonesia memiliki Rangga versi lain, yang sama-sama puitis, yakni Dilan.
Yak, langsong sajhaaa...
Judul : Dilan 1991
Sutradara : Pidi Baiq, Fajar Bustomi
Produser : Ody Mulya Hidayat
Pemeran : Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla
Rilis : 28 Februari 2019
Dilan 1991 adalah sequel dari seri Dilan yang didahului oleh film Dilan 1990. Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, dan diciptakan oleh Pidi Baiq. Sequel ini menceritakan lanjutan hubungan Dilan dan Milea yang telah resmi berpacaran tanggal 22 Desember 1990 di film Dilan 1990.
Biasanya, masa pendekatan lebih menyenangkan daripada saat pacaran. Nah, itu lah Dilan 1991. Ketika nonton film Dilan 1990, kita disuguhi sesuatu yang terasa fresh, salah satunya adalah penggambaran mengenai tahun 1990 dan 1991, sehingga mengembalikan tren lama ke masa sekarang, seperti jaketnya Dilan, dan motornya Dilan. Sedangkan di film kedua ini, Dilan 1991 hanya berisikan drama dalam hubungan Dilan dan Milea, sehingga menurutku sedikit membosankan, walau pas di awal sih cukup banyak momen-momen yang komedik.
Sejujurnya, aku tidak mengikuti seri novel Dilan sama sekali, jadi aku menonton seri film Dilan ini awalnya tanpa memiliki ekspektasi sama sekali. Entahlah, mungkin karena aku tidak tertarik dengan cerita romansa anak SMA yang labil? Atau mungkin karena aku belum bisa mencintai karya lokal? Bisa jadi dua-duanya.
Namun, setelah menonton film pertama, timbul lah sebuah ekspektasi untuk film kedua, apakah ceritanya akan sama menariknya?
Walaupun banyak sekali spoiler yang aku dapatkan dari para pembaca novel, bahwa pada akhirnya Dilan dan Milea putus, aku tetap memiliki ekspektasi yang cukup tinggi. Karena banyak yang bilang berpendapat bahwa kisah Dilan dan Milea ini sedih. Jadi, aku memiliki harapan bahwa menonton film Dilan 1991 ini aku bisa menitihkan air mata. Tetapi...... BORO-BORO.
Aku malah merasa konflik yang membuat Dilan dan Milea putus itu kurang wow, terkesan biasa saja. Walau mungkin untuk beberapa di antara kalian konflik seperti itu tuh wow. Tetapi bagiku, itu sangat biasa saja, benar-benar terasa real, nyata, dan dekat dengan kita, yang ketika kamu sudah beranjak dewasa mungkin akan berpikiran "terlalu real juga bodohnya". Mungkin Milea adalah salah satu kasus yang berakhir dengan perasaan baik-baik saja, tetapi pada nyatanya, kasus putus karena tidak mau di kekang dan over protective itu juga bisa tidak baik-baik saja (curhat, hahahaha).
Terlebih lagi, rencananya akan ada film ketiga yang di angkat dari novel ketiga berjudul "Milea". Oke, fine. Di film Dilan 1991 ini, semua sudut pandang dan rasa sakit lebih ditunjukkan pada karakter Milea, sedangkan Dilan tidak begitu terlihat apa yang sebenarnya dia rasakan ketika ada masalah.
Film "Milea" adalah curahan hati si Dilan, yang lebih memperlihatkan sudut pandang Dilan. Dan sepertinya aku akan tetap menonton film ketiga ini, sekedar untuk referensi dan pelengkap seri tontonan. Tetapi, seri film Dilan ini belum mampu atau bisa dikatakan gagal menggaet hatiku untuk membaca novelnya. Terlebih.... nah ini yang sedikit aku kurang klop.
Akan ada buku ke-empat tentang Dilan yang diceritakan oleh Cika, pacar Dilan setelah Milea--katanya. Nah, setelah muncul kabar bahwa akan ada buku ke-empat, aku semakin mengurungkan niat untuk membaca buku-bukunya, karena terkesan seperti cerita ini tuh wawancara yang dilakukan Pidi Baiq terhadap mantan-mantan Dilan. Jadi, ya, mungkin kalau tipe cowok kalian seperti Dilan, akan sangat menarik. Sayangnya, tidak bagiku, ehehe.
OVERALL REVIEW
☆☆☆
3/5 stars buat film ini. Mungkin karena ekspektasiku ketinggian, haha.
Yak, sekian review film Indonesia ketiga --setelah Dread Out & Terlalu Tampan-- yang aku tonton di tahun 2019 ini. Jujur nggak bisa mereview banyak hal karena aku masih awam dan merasa kurang lengkap tanpa membaca novelnya, tetapi aku pun belum punya motivasi untuk membacanya, ehe. Thank you untuk kalian yang sudah melipir!
![]() |
| Captain Marvel |
Sutradara : Anna Boden & Ryan Fleck
Produser : Kevin Feige
Pemeran : Brie Larson, Samuel L. Jackson, Ben Mendelsohn, Lee Pace, Djimon Hounsou, Gemma Chan, Jude Law, etc
Rilis : 6 Maret 2019 ( Indonesia )
Oke, jadi seharusnya aku nge-post mengenai beberapa tips untuk kamu yang ingin berkunjung atau baru pertama kali berkunjung ke Big Bad Wolf 2019. Tetapi hasratku me-review film ini tuh terlalu tinggi untuk di tunda, jadi tips-nya nanti, ya.
SPOILER ALERT
Yak! Sebelumnya, untuk kalian yang bukan tim spoiler. Kalian bisa close this tab atau langsung buka website lain, karena pasti aku menyebutkan beberapa hal yang bisa terhitung jadi spoiler, lol. Baik secara sadar maupun tidak.
Now, lemme introduce Captain Mar-vell!
Captain Marvel adalah film superhero Amerika yang menceritakan asal muasal super hero baru kita, yakni Captain Marvell yang sebelumnya, di film Avengers Infinity Wars membuat kita penasaran melalui adegan after-credit ketika Nick Fury, sebelum jadi abu menggunakan sebuah pager --alat komunikasi jadul gitu-- yang kemudian memunculkan simbol / lambang si Captain Mar-vell.
Untuk pengabdi komik marvel pasti hatam banget lah ya soal beginian, terlebih karakter hero-nya, penilaiannya biasanya lebih detail. Jadi, aku hanya mengungkapkan perasaanku sebagai pengabdi awam film-film MCU.
Jujur, aku sangat suka konsep cerita Marvel Cinematic Universe (MCU) yang nyambung dari satu film ke film lain, walau mereka juga bisa ditonton sebagai film stand-alone. Aku sangat senang untuk masuk ke sebuah universe fiksi yang diciptakan orang lain, seperti Harry Potter, Fantastic Beasts, Percy Jackson, Game of Thrones dan MCU. Rasanya aku masih begitu takjub dengan manusia yang bisa membuat sebuah dunia melalui imajinasi-nya.
Awalnya, aku ngga tertarik sama film super hero seperti Iron Man atau Captain America, apalagi Hulk. Dulu film super hero yang aku suka cuma Dare Devil, lol. Tapi semua berubah ketika aku nonton film pertama seri Thor. Yah, agak samar sih ceritanya, karena agak 'dark' gitu, iykwim. Tapi walaupun dark dan drama, aku suka Thor disitu, hahaha. Chris Hemsworth emang badai sih. Apalagi setiap kali Thor menggunakan Hammer-nya, itu lit banget. Terlebih saat di film Thor Ragnarok dan Avengers Infinity War, ketika Thor potong rambut, ngga gondrong lagi, palunya juga baru, kece maksimumumumum. Dah ah, capek ngomongin Thor. Back to Carol Danvers.
So, Carol Danvers adalah nama asli dari Captain Marvell. Sebelum nonton filmnya, aku sudah sempat searching di google Who Is Captain Marvell. Nah, jadi aku sudah punya sedikit gambaran mengenai siapa dan kenapa Carol Danvers bisa jadi Captain Marvell. Hero yang kabarnya adalah hero terkuat dibandingkan anggota Avengers lainnya.
Konsep
Secara konsep dengan apa yang aku baca di Marvel Wiki, filmnya punya konsep yang sama, yakni sama mengenai bagaimana Carol Danvers bisa memiliki kekuatan supernya, dan Carol memiliki atasan yang bernama Mar-Vell sebelum akhirnya mati. Nah, seingatku, Mar-Vell itu cowok dan mati karena nyelamatin Carol dari radiasi gitu. Tapi di dalam film-nya, Mar-Vell digambarkan sebagai cewek yang matinya karena ditembak oleh seorang Noble Warrior Hero dari pasukan Kree, entah siapa namanya, kok aku lupa, pokoknya di peranin sama Jude Law, itu loh si Albus Dumbledore muda --lah kok jadi Fantastic Beasts?
Setting
Next, animasi, CG atau apanya lah itu pokoknya editannya. Keren!! This is cool! I really love the costumes! Kekuatannya Captain Marvel! Flerken! Skrulls! I really love Brie Larson yang meranin karakter Carol Danvers, karena pas di film lebih cantik daripada di poster film, lol --aku sering ketipu poster film dan drama btw.
Menarik sih, karakter Skrulls ini juga sebenernya bikin aku amaze dan tertarik. Karena kekuatannya yang bisa menirukan penampilan orang lain tuh keren. Serius, ini keren. Kalau mereka muncul di Avengers: End Game, sepertinya akan super epic.
Musik! Aku ngga begitu tahu lagu dan musik apa saja yang ada di film, karena ngga begitu merhatiin dan tidak tertarik secara khusus. Tapi, i enjoyed it through the movie.
After-credit scene! Ini harus banget aku bold dan font-nya dijadikan large. Sesuatu yang spesial dari film-film marvel. Membuat orang-orang di studio bioskop masih duduk nungguin bagian credit film sampai selesai. Ada 2 after-credit scene nya marvel. Dan dalam film Captain Marvel, ada cuplikan ketika Captain America, Black Widow, Hulk, dll ketemu sama Captain Marvell. Uwoh, aku jadi deg degan nungguin film terakhirnya Steve Rogers, Tony Stark dan Thor. :(
Avengers End Game bulan depan, guys. So, prepare yourself to watch the end of the game.
Oke, ini sedikit bocoran. Ugh.. Am i spoil you too much? haha.
- Kalian tahu Nick Fury, kan? Laki-laki bertubuh besar yang pakai penutup mata seperti bajak laut? Yang agent Shield itu? Kalian akan tahu kenapa matanya bisa begitu.
- Kalian punya peliharaan? Pastikan kucingmu bukan Flerken, lol.
- Ah, space stone yang masih berbentuk Tesseract juga muncul disini, dan kalian akan tahu.... sesuatu, hahaha.
Sudahhhh. Aku hanya bisa menulis sebagian... atau mungkin sepenggal rasa kagumku dengan film Captain Marvel ini. Karena sejujurnya, sangat sulit untuk menginterpretasikan perasaan ke dalam kata-kata ;)
☆☆☆☆☆
5/5 stars
Karena Marvel tidak mengecewakan. Dan berhasil membuatku sangat penasaran dengan film selanjutnya, The Avengers: End Game.
![]() |
| Love O2O Movie Poster |
Produser : Zhang Yibai
Penulis : Gu Man
Rilis : 12 Agustus 2016
Pemeran : Jing Bo-Ran, Angela Baby
Genre : Romance
"Cintaku Bersemi di Game Online"
Mungkin judul seperti itu yang akan digunakan oleh sinema-sinema siang Indonesia jikalau suatu saat ada yang membuat cerita serupa. Yak, film berjudul Love O2O aka Love Online to Offline ini adalah adaptasi dari novel berjudul sama, karya Gu Man.
Sinopsis.
Film ini menceritakan Bei Wei Wei, mahasiswi populer di jurusan komputer, yang diajakin putus sama pacar dunia maya-nya di Game Online RPG yang suka dimainkan oleh Wei Wei. Alih-alih patah hati, Wei Wei tidak mengambil pusing ajakan putus yang dilakukan pacarnya itu dan langsung mengiyakan ajakannya, toh mereka berpacaran hanya untuk menyelesaikan misi-misi dalam game. Namun kemudian, Wei Wei mengetahui bahwa pacarnya minta putus karena berpacaran dengan gamer paling cantik di permainan itu. Ketika Wei Wei dianggap tengah mengacau acara pernikahan-online mantan pacarnya, seorang gamer papan atas bernama Yixiao Naihe muncul secara tiba-tiba dan mengajak Wei-Wei --yang menggunakan userID, Luwei Wei Wei-- untuk menikah di game tersebut.
Film ini menceritakan Bei Wei Wei, mahasiswi populer di jurusan komputer, yang diajakin putus sama pacar dunia maya-nya di Game Online RPG yang suka dimainkan oleh Wei Wei. Alih-alih patah hati, Wei Wei tidak mengambil pusing ajakan putus yang dilakukan pacarnya itu dan langsung mengiyakan ajakannya, toh mereka berpacaran hanya untuk menyelesaikan misi-misi dalam game. Namun kemudian, Wei Wei mengetahui bahwa pacarnya minta putus karena berpacaran dengan gamer paling cantik di permainan itu. Ketika Wei Wei dianggap tengah mengacau acara pernikahan-online mantan pacarnya, seorang gamer papan atas bernama Yixiao Naihe muncul secara tiba-tiba dan mengajak Wei-Wei --yang menggunakan userID, Luwei Wei Wei-- untuk menikah di game tersebut.
Bayangkan ada orang asing yang melamarmu dalam sebuah game, atau seseorang mengirim permintaan status di facebook padamu. Dalam dunia nyata, tentu itu mengerikan, bisa jadi modus kejahatan. Apalagi kalau kamu tidak memilah siapa temanmu di facebook. Tapi dalam dunia entertainment, semuanya dikemas untuk menghibur pemirsa dari jenuhnya dunia nyata. Itulah yang dilakukan Gu Man dalam cerita Love O2O ini. Hanya mengangkat problem kecil, dan menambahinya dengan bumbu romansa dan komedi, ta-daaaaa jadilah cerita ini.
Greenshe akan mengulas film, drama, dan novelnya secara terpisah. Siapa yang belum nonton film, drama, atau belum baca bukunya? Berhati-hatilah, karena akan ada beberapa spoiler dalam review ini. Shuu shuu..
REVIEW
Plot.
Love O2O ini memiliki konsep cerita yang sangat ringan, hanya kisah cinta seputar anak kuliahan. Tidak ada sang antagonis, apalagi derai air mata. Yang ada hanyalah senyum dan tawa. Siapa sangka perihal pacaran dalam game online bisa dijadikan cerita yang menarik? Ini yang membuatku terkesan dengan Love O2O. Konsep cerita yang terkesan fresh dan unik ini sangat bisa menghibur pemirsa yang menontonnya. Bumbu komedi yang disesapkan ke dalam film juga unik.
Awalnya, Greenshe tidak tertarik dengan film ini, namun (seperti biasa) poster film ini selalu ada di bagian Film Rekomendasi di situs nonton drama dan film favorit Greenshe. Dan yah, berhubung tidak ada tanggungan drama atau film yang harus di download dan di tonton saat itu, Greenshe iseng-iseng menonton film ini. Dan rupanya, ceritanya sungguh menarik dan Greenshe sampai terpukau dengan ketampanan Xiao Nai yang diperankan oleh Jing Bo Ran.
Selain itu, bagi penggemar berat acara variety show Korea, Running Man, tentu nggak asing sama Angela Baby yang merupakan member Running Man versi China. RM Korea dan China beberapa kali membuat episode khusus, dimana keduanya bermain. Nah, karena Greenshe sedikit familiar dengan Angela Baby, jadi bisa dikatakan Greenshe menonton film ini karena Angela Baby juga.
Awalnya, Greenshe tidak tertarik dengan film ini, namun (seperti biasa) poster film ini selalu ada di bagian Film Rekomendasi di situs nonton drama dan film favorit Greenshe. Dan yah, berhubung tidak ada tanggungan drama atau film yang harus di download dan di tonton saat itu, Greenshe iseng-iseng menonton film ini. Dan rupanya, ceritanya sungguh menarik dan Greenshe sampai terpukau dengan ketampanan Xiao Nai yang diperankan oleh Jing Bo Ran.
Selain itu, bagi penggemar berat acara variety show Korea, Running Man, tentu nggak asing sama Angela Baby yang merupakan member Running Man versi China. RM Korea dan China beberapa kali membuat episode khusus, dimana keduanya bermain. Nah, karena Greenshe sedikit familiar dengan Angela Baby, jadi bisa dikatakan Greenshe menonton film ini karena Angela Baby juga.
Karakter.
Angela Baby dan Jing Bo Ran bukanlah aktris dan aktor pendatang baru di China. Aku sudah sering melihat film dan drama mereka. Dan keduanya memang dapat dikatakan termasuk aktris dan aktor andalan di China, sehingga kemampuan actingnya nggak diragukan lagi lah yaa.
Angela Baby sangat baik menggambarkan karakter Wei Wei yang cool! namun terkadang bersikap bodoh hingga bisa membuat penonton merasa malu, haha. Jing Bo Ran juga sangat baik menggambarkan karakter Xiao Nai yang super ganteng, keren dan tak banyak berekspresi.
Angela Baby sangat baik menggambarkan karakter Wei Wei yang cool! namun terkadang bersikap bodoh hingga bisa membuat penonton merasa malu, haha. Jing Bo Ran juga sangat baik menggambarkan karakter Xiao Nai yang super ganteng, keren dan tak banyak berekspresi.
Setting dan Sound Effect.
Setting : Awalnya, Greenshe agak kurang nyaman sama penggambaran dunia game online dalam film ini. Tapi semakin lama ditonton, yaaaa lumayan. Dan overall, semuanya tertutup dengan cerita yang super duper menghibur.
Song : Greenshe sejujurnya nggak begitu merhatiin ada lagunya atau nggak bahkan. Sangking senangnya dengan plot yang menyenangkan seperti ini, jadi Greenshe ngga punya banyak hal yang bisa dikomen buat lagunya. Cocok cocok aja kayaknya, soalnya aku masih bisa enjoy nontonnya.
Song : Greenshe sejujurnya nggak begitu merhatiin ada lagunya atau nggak bahkan. Sangking senangnya dengan plot yang menyenangkan seperti ini, jadi Greenshe ngga punya banyak hal yang bisa dikomen buat lagunya. Cocok cocok aja kayaknya, soalnya aku masih bisa enjoy nontonnya.
OVERALL REVIEW
Plot : 9 / 10 (karena cerita ini tipe Greenshe banget)
Karakter : 9 / 10 (Xiao Nai ganteng banget soalnya, hahaha)
Setting : 8 / 10
Sound : 7 / 10 (deguchi, soalnya gak begitu fokus ke musik dan suara)
Film ini rekomen BANGET, buat kalian pecinta drama dan film romance yang sudah lelah nonton film dan drama yang punya konflik berat dan bikin perasaan galau. Jaminan bakal senyum senyum geli pas nonton film ini. Film ini ringan, tapi menghibur.
Film ini juga memiliki versi Drama dan Buku nya. Selanjutnya, Greenshe akan mengulik Dramanya. Tapi bagi pemula, silahkan nonton Filmnya dulu, karena menurut Greenshe, film ini seperti trailer untuk dramanya. Sedangkan bukunya lebih detail dari dramanya. Jadi, nonton filmnya dulu saja~
See ya!
![]() |
| Ant-Man and The Wasp |
Sutradara : Peyton Reed
Perusahaan Produksi :
Marvel Studios
Distributor : Walt Disney
Motion Pictures Group
Rilis : 4 Juli 2018
(Indonesia)
Pemeran : Evangeline Lilly,
Paul Rudd, Hannah John-Kamen, Michael Douglas, Michelle Pfeiffer
Spoiler Alert! Review ini mengandung beberapa spoiler yang mungkin tidak kalian sukai. Jadi, berhati-hatilah!
Halo teman-teman,
kali ini Greenshe akan mereview film Ant-Man
and The Wasp yang belum lama ini Greenshe saksikan di bioskop. Siapapun yang
sudah menonton Avengers: Infinity Wars
yang bulan Maret lalu menggebyarkan bioskop-bioskop tanah air, tentu ada
beberapa dari kalian yang penasaran akan ketidakhadiran beberapa superhero,
khususnya manusia semut kita, Ant-Man.
Banyak meme yang bertebaran mengenai betapa mudahnya Thanos dikalahkan jika ada Ant-Man, haha. Nah, dalam film baru superhero Marvel ini, Ant-Man and The Wasp menjelaskan apa yang dilakukan Scott Lang dan kawan-kawan hingga melewatkan penampilan spektakuler Thanos dan Avengers beberapa bulan lalu.
Banyak meme yang bertebaran mengenai betapa mudahnya Thanos dikalahkan jika ada Ant-Man, haha. Nah, dalam film baru superhero Marvel ini, Ant-Man and The Wasp menjelaskan apa yang dilakukan Scott Lang dan kawan-kawan hingga melewatkan penampilan spektakuler Thanos dan Avengers beberapa bulan lalu.
REVIEW
Plot.
Dalam sequel ini, Scott tengah
menjalani hukumannya sebagai tahanan rumah karena memihak pada Captain America
dalam film Captain America: Civil War. Padahal masa tahanannya akan berakhir
tak lama lagi, namun setelah ia mendapatkan visi
mengenai istri Hank Pym yang menghilang dalam Quantum Realm (silahkan
tonton film Ant-Man yang pertama), Hank Pym beserta anaknya, Hope
Van Dyne, mengajak Scott Lang bekerjasama untuk mengeluarkan istri Hank Pym
dari Quantum Realm, pasalnya pada
film pertama Ant-Man, Scott berhasil kembali dengan selamat dari Quantum Realm itu, membuat Hank Pym dan
Hope memiliki keyakinan bahwa mereka dapat menyelamatkan istri dan ibunya.
Untuk melancarkan aksinya, Hank dan Hope menciptakan mesin yang untuk menyempurnakannya membutuhkan suatu alat penting gitu (lupa namanya apa). Namun, untuk mendapatkan alat penting itu ternyata tidak mudah. Selain harus bersembunyi dari FBI, mereka harus berhadapan dengan Ghost yang ternyata juga mengincar alat, mesin, bahkan lab milik Hank Pym.
Untuk melancarkan aksinya, Hank dan Hope menciptakan mesin yang untuk menyempurnakannya membutuhkan suatu alat penting gitu (lupa namanya apa). Namun, untuk mendapatkan alat penting itu ternyata tidak mudah. Selain harus bersembunyi dari FBI, mereka harus berhadapan dengan Ghost yang ternyata juga mengincar alat, mesin, bahkan lab milik Hank Pym.
Jika menilai plot cerita secara
individu, plot yang disuguhkan dalam Ant-Man and The Wasp cenderung biasa saja
jika dibandingkan dengan Ant-Man pertama, apalagi jika dibandingkan ke-epic-an Infinity Wars kemarin. Plot cerita lebih menceritakan masalah
keluarga Hank dan Hope, selain itu, kemunculan Hope sebagai The Wasp yang keren
banget, membuat karakter Scott sebagai Ant-Man agak overshadowed. Jadi, kalau saja The Wasp memiliki film sendiri pasti
tidak buruk.
Jika melihat plot cerita secara
kelompok, yaitu dengan melihat kronologi film Marvel Cinematic Universe, film Ant-Man and The Wasp ini cukup membuat para
pengabdi Infinity Wars dapat bernapas agak lega setelah superhero favorit
mereka jadi abu, hing... Doctor Strange.
Selain menjelaskan alasan Scott absen di Infinity Wars, film ini juga menandakan bahwa waktu menuju Avengers 4 tidak lama lagi, hanya hitungan bulan. Yah, masih tahun depan sih, tapi setidaknya list film yang muncul di antara Avengers 3 dan 4 ini semakin menyusut. Greenshe bahkan nggak sabar dengan debut Captain Marvel yang kabarnya akan dirilis tahun depan.
Selain menjelaskan alasan Scott absen di Infinity Wars, film ini juga menandakan bahwa waktu menuju Avengers 4 tidak lama lagi, hanya hitungan bulan. Yah, masih tahun depan sih, tapi setidaknya list film yang muncul di antara Avengers 3 dan 4 ini semakin menyusut. Greenshe bahkan nggak sabar dengan debut Captain Marvel yang kabarnya akan dirilis tahun depan.
Karakter.
Menurut Greenshe, karakter yang
menonjol dalam film ini adalah The Wasp dan Ghost. Kedua karakter tersebut
belum pernah menunjukkan kekuatan mereka di film manapun, sehingga penampilan
perdana mereka dalam film ini membuat karakter Ant-Man sedikit tergeser.
Terlebih dengan plot yang lebih berfokus pada The Wasp.
Tapi, adegan yang berkesan bagi
Greenshe adalah adegan Scott Lang ketika pikirannya dirasuki oleh Janet Van
Dyne, membuatnya bertingkah seperti perempuan dan istri dari seorang Hank Pym.
Banyak adegan-adegan komedik yang mampu memancing tawa para penonton. Dan untuk
divisi komedi dalam film ini, Greenshe mengacungi jempol untuk Scott Lang dan
sahabatnya, Luis. Bahkan Greenshe tak menyangka bahwa kalimat “Baba Yaga” yang sering
disebut-sebut oleh karakter bernama Kurt dalam film ini memiliki nilai humor yang
lumayan bagus.
Setting dan Sound Effect
Hmm.. Untuk film ini, Greenshe tidak begitu memfokuskan review pada setting dan sound effect. Namun, untuk Greenshe yang awam akan teknologi
animasi seperti ini, setting animation dalam film ini sangat keren. Khususnya
untuk adegan perkelahian The Wasp, Ghost, dan Ant-Man. Kenyataan bahwa Hank Pym
menciptakan alat yang mampu mengubah ukuran benda apapun jadi kecil dan besar
itu menakjubkan. Bahkan gedung Labnya pun dapat disulap jadi seukuran koper.
Mau koleksi mobil? Hank Pym bisa menyulap mobil hotwheels milikmu jadi seukuran mobil biasa. Sedangkan untuk sound
effect atau musik, Greenshe tidak merasa ada sesuatu yang spesial. Namun
begitu, Greenshe tetap bisa merasa enjoy nontonnya.
OVERALL REVIEW
Plot = 7.5/10
Karakter = 7.5/10
Setting = 8/10
Sound Effect = 7/10
Film ini
rekomen bagi kalian yang mengikuti film seri Marvel Cinematic Universe. Ah!
Perihal post-credit, atau tayangan setelah credit dalam Ant-Man and The Wasp, cukup mengejutkan bahwa Ant-Man tertinggal di
Quantum Realm karena Hope, Hank, dan
Janet jadi abu ketika sedang mengawasi Scott dalam Quantum Realm. Sebenarnya ada dua post-credit dalam film ini, tapi
menurutku yang kedua agak sedikit.... hmm... Tonton sendiri deh! See ya on next review!
![]() |
| SABRINA : The Next Terror in The Doll Series |
Sutradara : Rocky Soraya
Produser : Rocky Soraya
Rumah Produksi : Hitmaker Studios
Rilis : 12 Juli 2018
Pemeran : Luna Maya, Sara Wijayanto, Jeremy Thomas,
Christian Sugiono
Genre : Horror, Thriller
Spoiler Alert! Kukatakan padamu, review ini mengandung sejumlah spoiler. Jadi, efek samping review ini adalah urusanmu.
Hai
teman-teman, di kesempatan kali ini Greenshe akan me-review film horor lokal yang
sedang tayang bulan Juli ini di bioskop-bioskop tanah air, judulnya SABRINA. Film
ini merupakan film ketiga dari trilogi The
Doll yang menceritakan kelanjutan dari kisah The Doll 2. Greenshe belum pernah menonton dua film pendahulunya
karena pesimis akan keseruan film-film horor Indonesia, hing.. gomen. Tetapi setelah (dipaksa sama adik) menonton film SABRINA,
timbul keinginan untuk menonton film-film sebelumnya.
Jadi,
film ini menceritakan tentang keluarga baru Maira (Luna Maya) dan Aiden (Christian
Sugiono) yang mengangkat Vanya, keponakan Aiden, sebagai anak lantaran
kedua orang tuanya, yaitu Arka dan Andini sudah meninggal. Namun, rupanya Vanya
belum ikhlas akan kepergian Bunda-nya, hingga suatu hari, temannya yang bernama
Ditho menunjukkan Vanya permainan Pensil Charlie yang dapat digunakannya untuk
bertemu lagi dengan mendiang Bunda-nya. Alih-alih Bunda-nya yang datang,
permainan Pensil Charlie yang dimainkan Vanya telah memanggil makhluk yang lebih
berbahaya, yaitu Baghiah, anak iblis yang berusaha untuk merasuki dan mengambil
alih tubuh manusia untuk hidup di dunia manusia.
Kualitas
film horor layar lebar Indonesia saat ini patut diacungi jempol, lantaran sudah
memiliki kualitas yang super lebih baik daripada film-film horor dulu yang
banyak memuat unsur dewasa, padahal memiliki cerita yang biasa saja, hingga
membuatku enggan untuk menonton film horror lokal.
REVIEW
Plot.
Tema
‘hantu boneka’ ini tentu membuat beberapa orang (like me) merasa bahwa ceritanya pasti bakal mirip dengan film
horor Amerika, Annabelle, yang pernah tayang di bioskop Indonesia. Namun jangan
salah, meskipun film ini seolah terinspirasi dari film horor tersebut, bobot nilai
moral yang disuguhkan dalam cerita SABRINA ini lebih jelas dan cocok untuk
dikalangan lokal. Tidak seperti film horor luar yang menampakkan kengerian dan
kesadisan yang pada akhirnya pun sulit untuk dicerna apa alasannya.
Iri dan dengki dalam hati manusia adalah inang dari sebuah kejahatan.
Dalam film ini diceritakan bahwa Baghiah sebenarnya dipanggil ke dunia oleh
manusia yang iri dan dengki, untuk menjadi anak buah atau pekerja yang tengah mencari upahnya
karena telah menyelesaikan misi-nya. Greenshe cukup terkesan bahwa ternyata
Aiden lah yang telah memanggil Baghiah ke muka bumi ini dengan pertolongan
seorang dukun. Greenshe merasa hal tersebut agak unexpected, seolah menjadi plot
twist, karena dari awal tuh setiap karakter dalam film tidak ada yang
begitu menonjol maupun mencolok, jadi siapa sangka dalangnya ada di antara
mereka. Kenapa Aiden memanggil Baghiah? I
won’t spoil anything about it.
Karakter.
Para
aktor dan aktris kita memerankan perannya dengan sangat baik. Tetapi adegan
kesurupan yang dilakoni Maira, Aiden, serta Vanya, membuatku ingin mengacungi
mereka dengan seribu jempol, namun apa daya, jempolku hanya ada empat.
Pasalnya, adegan ketika Baghiah menyurupi ketiga karakter tersebut hanya untuk
membunuh Laras (seorang paranormal yang
pernah menghalangi usaha Baghiah untuk merasuki tubuh manusia) sangat
mengerikan dan menambah suasana menonton menjadi super menegangkan.
Selain
itu, karakter yang Greenshe sukai dalam film ini adalah karakter Laras yang
diperankan oleh Sara Wijayanto. Karakter Laras memiliki perkembangan yang lebih
menonjol dari karakter lainnya. Kehilangan suami dan anak-anak karena
pekerjaannya sebagai paranormal itu menjadi kekuatannya ketika dirinya nyaris
goyah dan takut terhadap kehadiran Baghiah yang energi negatifnya lebih
mengerikan dibandingkan dengan Baghiah yang dulu pernah dilawannya. Bersama
dengan suami barunya, Raynard, yang diperankan oleh Jeremy Thomas, Laras
bangkit untuk melawan Baghiah.
Setting dan Sound Effect.
Sedikit
cerita, jadi, aku menonton SABRINA ini di bioskop XXI, yang jika dibandingkan
dengan CGV, suaranya lebih menggelegar. Sound effectnya bagus, membuat jantung
semakin berdebar, apalagi ketika adegan naik tangga dan kemudian ada boneka
SABRINA di tangga itu. Damn! That’s
horror!
Ketika terjadi adegan kejar-kejaran antara karakter-karakter
protagonis kita dengan Baghiah ini juga menegangkan. Ah! Dan efek suara setiap
kali Baghiah hendak menampakkan diri itu lebih horor lagi. Duh, genre
horrornya tersemat dengan baik.
Nah,
untuk settingnya. Setting tempat atau latar seperti rumah yang digunakan itu tipikal film
horor pada umumnya. Rumahnya gedong banget, tapi isinya hanya ada Maira, Aiden,
Vanya, dan Bi Nur. Menurut Greenshe, untuk setting tempat sih yaa bagus bagus
saja. Tapi hal yang Greenshe sukai dari setting adalah make up artist-nya. Penataan untuk rias wajah Baghiah, dan
karakter-karakter yang kesurupan Baghiah itu the best. Horor banget deh mukanya, khususnya bagian hidung.
Mungkin beberapa orang menganggap hidungnya bakalan lucu tanpa darah hitam yang membasahinya, tapi Greenshe berkata
lain, haha.
OVERALL REVIEW
Plot
= 7.8/10
Karakter
= 7.5/10
Setting
= 8/10
Sound
Effect =
8/10
Yak.
Film dengan rate Dewasa ini tidak
cocok untuk ditonton oleh anak-anak, karena mengandung unsur cabik-cabikan yang
mengerikan. Jadi, menurut Greenshe film ini sudah rekomen banget untuk kategori
usianya. Bagi para orang tua, jangan membawa anak-anak, ya. See ya on next review!
![]() |
| Hereditary (2018) |
Genre : Horor, Drama, Misteri
Pemeran : Alex Wolff, Gabriel Byrne, Toni Collette, Milly Shapiro
Director : Ari Ester
Rilis : 27 Juni 2018
Spoiler Alert! Review film ini mengandung sejumlah spoiler yang mampu membuat kalian yang belum menonton film ini merasa terganggu. Jadi, berhati-hatilah!
Kematian salah seorang anggota keluarga seharusnya menjadi sebuah duka yang mau tak mau akan menumpahkan air mata kalian. Namun rupanya hal tersebut tak berlaku untuk keluarga Graham. Kematian Ellen Graham rupanya tak mampu membawa duka bagi keluarganya. Jangankan menantunya, Steve, dan kedua cucunya Peter serta Charlie, bahkan Annie Graham sebagai anak kandung perempuannya, tak meneteskan air matanya sama sekali.
Kasihan sekali ya, pikirku. Namun, setelah kematian Ellen Graham, Annie beserta keluarganya mulai menerima teror yang usul punya usul, berkaitan dengan warisan nenek moyang keluarga mereka. Tiba-tiba Greenshe teringat seri film Kuntilanak yang membahas mengenai wangsit, semacam warisan.
Meskipun masih tipikal film horor Amerika yang mengandung unsur aliran sesat, atau sistem pemujaan iblis yang berujung pada sesuatu yang berbau thriller dibandingkan horor, film ini tersusun begitu apik, mulai dari plot, karakter, setting, dan sound effect nya.
REVIEW
Alur Cerita / Plot
Alur yang disuguhkan dalam film ini terkesan lambat, namun genre misteri benar-benar disematkan secara baik dalam setiap adegan, membuat penonton menebak-nebak ceritanya, lalu kemudian menyesali tebakannya yang tak tepat.
Sejak kematian ibunya, Annie mendatangi sebuah perkumpulan biasa gitu, entah untuk apa, aku lupa, sepertinya untuk menenangkan diri dari stress dan konflik diri yang sedang di alaminya. Namun, kematian Charlie, anak bungsunya, dalam kecelakaan atas keteledoran sang sulung, Peter, sempat membuat Annie urung untuk mendatangi perkumpulan itu lagi, mungkin ia merasa bahwa perkumpulan tersebut takkan mampu menghibur dirinya kembali. Saat itu ia bertemu dengan sosok yang terkesan ramah, bernama Joan.
Nah, ketika menonton, menurutku kehadiran Joan yang membujuk Annie untuk tetap stay di perkumpulan ini cukup misterius. Meskipun sejak awal aku sudah mampu menebak bahwa film ini berpusar pada suatu sekte pemujaan atau sejenisnya, namun detail-detail lain dalam film ini cukup membuatku gusar untuk menebak.
Genre drama dalam film ini tergambarkan melalui hubungan yang kurang harmonis di keluarga Graham ini. Sedangkan genre horornya begitu terasa dalam pengaturan setting lokasi dan pemberian sound effect yang menambah ketegangan ketika menonton film ini.
Karakter
Penggambaran karakter dalam film ini sangat baik. Karakter-karakter disini begitu aneh (dalam hal baik) dan misterius, membuat penonton agak kesulitan menebak apa maunya si karakter ini, seperti karakter Charlie yang seringkali menimbulkan suara "tlok tlok" dengan mulutnya, dan bertingkah layaknya anak aneh. Lalu karakter si ibu yang menuju akhir cerita menunjukkan potensi menjadi Spider-girl. Karakternya membuat genre misterinya semakin terasah.
Setting dan Sound Effect
Sempurna. Review ini mengandung unsur subjektifitas yang tinggi. Dan diriku yang harus menggunakan kacamata jari setiap kali menonton film horor menganggap bahwa setting latar dan sound effect dalam film ini sempurna. Bayangkan di dalam bioskop, aku parno sendiri hanya karena pergantian waktu malam ke siang. Awalnya aku mengira akan ada adegan mengejutkan atau menakutkan, tetapi ternyata hanya pergantian waktu. Sound effect super mendukung suasana horor, mengerikan, dan misterius dalam film ini.
OVERALL REVIEW
Plot : 7.5 / 10
Karakter : 8 / 10
Setting : 10 / 10
Sound Effect : 10 / 10
Bagi kalian yang bertanya-tanya apakah film ini rekomen atau nggak. Greenshe tidak begitu merekomendasikan film ini bagi yang sudah bosan dengan tipikal film horor Amerika yang mengulik tentang sekte dan aliran sesat. Selain akhir cerita yang membuat beberapa penonton, hah? kok? oh gitu? serius?, bagiku film ini kurang begitu berkesan, karena sebelum pergi menonton banyak temanku yang mengatakan bahwa film ini bagus banget. Jadi, agak kecewa gitu.
Ah, aku membuat review ini setelah menonton film ini beberapa jam yang lalu, jadi mungkin banyak hal yang aku miss dalam review. Nah, yang sudah menonton film ini bisa juga memberikan pendapat kalian mengenai film ini di kolom komentar.
About Me
Welcome to my little corner! I’m Lia, someone who finds joy in stories, whether through novels, dramas, movies, or my own writings. With a Green Tea Latte in hand, I explore different narratives and share my thoughts here.
Expect reviews, reflections, and a mix of personal musings. Most of my posts are in Bahasa Indonesia, but occasionally you’ll find entries in English or even a bit of Korean!
Stay tuned, and let's dive into stories together!
Old Reviews
-
►
2025
(4)
- ► Desember 2025 (2)
- ► Agustus 2025 (1)
-
►
2023
(3)
- ► September 2023 (2)
- ► Agustus 2023 (1)
-
►
2022
(8)
- ► November 2022 (1)
- ► September 2022 (4)
- ► April 2022 (1)
-
►
2021
(23)
- ► November 2021 (7)
- ► Oktober 2021 (1)
- ► April 2021 (1)
- ► Maret 2021 (9)
-
►
2020
(23)
- ► November 2020 (4)
- ► September 2020 (1)
- ► Agustus 2020 (3)
- ► April 2020 (1)
- ► Maret 2020 (5)
-
►
2019
(43)
- ► Desember 2019 (3)
- ► November 2019 (4)
- ► Oktober 2019 (5)
- ► September 2019 (5)
- ► Agustus 2019 (6)
- ► April 2019 (1)
- ► Maret 2019 (6)
- ► Februari 2019 (3)
- ► Januari 2019 (3)
-
►
2018
(8)
- ► November 2018 (2)
- ► Agustus 2018 (2)












